Vaksin

PBB Harus Cepat Membantu Dunia untuk Mendistribusi Vaksin

PBB Harus Cepat Membantu Dunia untuk Mendistribusi Vaksin

PBB Harus Cepat Membantu Dunia untuk Mendistribusi Vaksin – “Penemuan vaksin bukanlah akhir dari tantangan. Tugas kami setelah itu adalah meyakinkan vaksin tersedia untuk semua dan didistribusikan secara adil. Di banyak negara, khususnya negara berkembang. Karena keterbatasan kapasitas  memproses dan distribusi vaksin,  kapasitas personel termasuk makin lama meningkat,” lanjut Menlu. Kami sadar bahwa dunia terkait terhadap kepemimpinan PBB di dalam mengatasi krisis ini. PBB perlu melangkah maju, menyita langkah konkrit dan membangun keyakinan terhadap dunia,” ujarnya.

Vaccinationcouncil.org – Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres tekankan pengaruh pandemi terhadap kelompok paling rentan di masyarakat. “Orang miskin, orang tua, wanita dan anak-anak paling terpukul,” kata Sekretaris Jenderal PBB. Oleh karena itu, perlu manfaatkan kesempatan rekonstruksi pascapandemi untuk merubah dunia menjadi dunia yang lebih adil. Retno termasuk melaksanakan tiga hal yang perlu dilakukan penduduk internasional. Pertama, merubah keterlibatan politik menjadi langkah-langkah konkrit. Kebutuhan yang paling mendesak adalah untuk menopang usaha vaksin multilateral  layaknya AMC’s COVAX  dan AC Accelerator. Kapasitas penjualan nasional dan perlindungan  sumber energi manusia.

 Kedua, memperkuat kapasitas industri medis di tiap-tiap negara. Saat ini terkandung kesenjangan infrastruktur kesegaran pada negara maju dan negara berkembang yang perlu diatasi lewat litbang, alih teknologi, dan pembangunan ekosistem untuk  kerjasama industri.

 Ketiga, makin lama memperkuat sistem kesegaran global. WHO tidak sempurna, tetapi tetap merupakan pilihan paling baik bagi dunia  untuk mengoordinasikan upayanya memerangi pandemi. Semua negara perlu menopang pembangunan kapasitas WHO. Mekanisme multilateral yang dibangun sepanjang pandemi  perlu tetap berlanjut sehabis pandemi berakhir. Akses kumpulan ke teknologi, akselerator alat, dan fitur COVAX  perlu menjadi mekanisme yang bakal tetap digunakan.

  Sidang spesifik Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa ini diselenggarakan untuk makin lama memperkuat langkah bersama yang dilakukan penduduk dunia di dalam menghadapi pandemi. Beberapa topik spesifik yang dibahas termasuk penyediaan vaksin, pemulihan dunia dari pandemi, dan meyakinkan ketahanan kesegaran global di jaman depan. Indonesia memiliki, pada lain, peran kepemimpinan internasionalnya sebagai tidak benar satu pendukung Resolusi 74/270 “Solidaritas Global untuk Melawan COVID19”, resolusi PBB pertama yang mengatasi COVID19 sejak awal fase penyembuhan pandemi. Tepuk tangan itu disahkan terhadap 2 April 2020.

Direktur  Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus menyerukan penundaan booster atau suntikan ketiga vaksin COVID-19. Ini sanggup ditunaikan setidaknya sampai akhir September. Ini amat mungkin 10 persen dari populasi  tiap-tiap negara untuk divaksinasi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mendesak seluruh negara yang memiliki rencana untuk menyuntikkan dosis penguat Covid-19 untuk menunda waktu kemauan mereka sampai September th. depan. Sekretaris Eksekutif WHO Tedros Adanom Gebreyes membetulkan permintaan ini. Dia menyatakan vaksin tambahan yang waktu ini digunakan di negara-negara maju dapat sebabkan defisit vaksin di negara-negara berpenghasilan rendah.

Baca Juga : AS Dorong Pemimpin Dunia Capai Target Vaksinasi Global

 “Saya mengetahui  seluruh kegalauan pemerintah mengenai merawat orang dari varian Delta, tetapi aku tidak sanggup menerima lebih banyak pemakaian oleh negara-negara yang telah kehabisan lebih dari satu besar pasokan vaksin dunia.” Tedros. Menurut WHO, negara-negara berpenghasilan tinggi sanggup mengimbuhkan 50 dosis per 100 orang terhadap bulan Mei, yang sanggup berlipat ganda. Di segi lain, di negara-negara berpenghasilan rendah, gara-gara kekurangan pasokan, itu hanya sanggup diberikan 1,5 kali per 100 orang. “Kami benar-benar membutuhkan pasokan, lebih dari satu besar vaksin pergi ke negara-negara berpenghasilan tinggi dan lebih dari satu pergi ke negara-negara berpenghasilan rendah,” kata Tedros. Imbauan ini tampaknya tidak menghentikan rancangan Amerika Serikat untuk selamanya mengimbuhkan booster jika diperlukan. Seorang pejabat Gedung Putih Jen Psaki menyatakan negaranya selamanya sanggup mengimbuhkan booster sekaligus mendonasikan kelebihan stok ke negara lain.

 “Kami membutuhkan pembalikan mendesak dari lebih dari satu besar vaksin masuk ke negaranegara berpenghasilan tinggi, ke lebih dari satu besar ke negaranegara berpenghasilan rendah,” kata pria asal Ethiopia itu dalam sebuah konferensi pers. Ia menyatakan juga bahwa ketimpangan vaksin masih berjalan di seluruh dunia. Terutama bersama dengan apa yang dialami benua Afrika yang sejauh ini baru memvaksin 1,5% penduduknya. Permintaan ini disampaikan oleh Dr. Bruce Aylward, Penasihat Senior WHO. Dia menyatakan menghimpit booster  dapat menopang WHO  menggapai obyek mereka untuk memperoleh 40% dari populasi dunia divaksinasi bersama dengan COVID-19 terhadap bulan Desember. “Gambaran besarnya di sini adalah pedoman untuk tidak bergerak maju bersama dengan booster sampai orang tua, orang komorbid, dan pekerja garis depan menggapai dunia saat mereka dilindungi semaksimal mungkin. Saya punya.” Aylward terhadap pertemuan itu.

Para pakar berpendapat bahwa vaksinasi  populasi global benar-benar perlu untuk mengakhiri pandemi virus corona. Jika tidak, virus barangkali coba bermutasi lagi dan  membuahkan varian yang lebih ganas, seperti varian delta yang sedang berkembang. “Seluruh dunia ada di tengah-tengahnya, dan Anda tidak sanggup muncul  jika seluruh dunia muncul bersama-sama, gara-gara Anda telah melihat varian muncul satu demi satu. Anda tidak sanggup jalankan itu,” kata Isleward. bidang. “Jika masih ada negara-negara yang kekurangan vaksin di seluruh dunia, ini sanggup  diperpanjang melampaui September,” jadi Isleward. Ini menyerap serapan pasokan global yang terlalu berlebih ke negara-negara berpenghasilan tinggi,  berpenghasilan tinggi-menengah, dan berpenghasilan rendah, “kata Isleward. Diketahui lebih dari satu negara di dunia, juga Indonesia, sedang jalankan program booster. Saat menyuntikkan booster ini, pemerintah Indonesia dapat memakai vaksin mRNA seperti Moderna yang di terima dari perlindungan AS.